Ini Cara Jupe Pecahkan Mitos Persib Tak Juara dalam Kompetisi Penuh



Tinggal menghitung hari Persib bakal menjalani laga perdana Liga 1 melawan Arema FC, Sabtu (15/4) di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA). ‘The Champions Is Back’ begitulah seruan

Sabtu nanti, dimana Maung Bandung datang masih sebagai jawara bertahan di kompetisi tertinggi tanah air setelah memenangi musim 2014 dengan cara mengkandaskan Persipura Jayapura di final.

Tak ada lagi juara resmi selama kurun dua tahun terakhir karena kompetisi resmi domestik tak dihelat. Jika menarik benang merah alur dua kali juara Persib 1994 dan 2014, mereka menjalani musim juara dengan format dua wilayah yang kemudian 4 tim teratas akan bertemu di babak 8 besar.

Liga Indonesia 1994:
– Persib lolos Wilayah Barat bersama Pelita Jaya, Bandung Raya, dan Medan Jaya.
– Juara 1 wilayah Barat Pelita Jaya (77 poin).
– Persib finis di posisi kedua (69 poin).
– Babak 8 Besar Persib juara Grup B (Persib, Medan Jaya, Petrokimia, Asyabaab Salim Surabaya),
– Semi final Persib 1-0 Barito Putera (menang),
– Final Persib 1-0 Petrokimia (juara).
Liga Indonesia 2014
– Persib lolos Wilayah Barat bersama Arema Cronus, Semen Padang, dan Pelita Bandung Raya.
– Juara 1 wilayah Barat Arema Cronus (46 poin).
– Persib finis di posisi kedua (41 poin).
– Babak 8 Besar Persib juara Grup 2 (Persib, Pelita Bandung Raya, Mitra Kukar, Persebaya).
– semi final Persib 3-1 Arema Cronus (extra time)
– final Persib 2-2 Persipura, dan juara lewat adu penalti 5-3

Musim 2017 ini Persib akan menjalani kompetisi dengan format kompetisi penuh atau double round robin 18 tim. Pada sejarahnya Persib belum pernah memenangi gelar juara dengan format kompetisi tersebut. Adalah mitos Persib selalu gagal apabila format yang dijalankan operator berlangsung demikian. Ditambah lagi kutukan tak ada jawara bertahan yang akan memenagi piala di musim selanjutnya belum terpecahkan.

Ketakutan-ketakutan akan mitos tersebut sejatinya hanyalah sebuah shock therapy awal yang tak berlebihan menakuti Atep cs. Center back senior Persib Achmad Jufriyanto harus meyakini bahwa kutukan-kutukan di atas bisa terpecahkan oleh timnya.

Cara dia adalah dengan menganggap setiap pertandingan merupakan final. Tak peduli lawan yang dihadapi dari tim papan atas, medioker atau papan bawah liga, semua laga mesti dijalani dengan anggapan partai final. “Kita harus bisa menjadikan setiap pertandingan ibarat final buat kita,” ungkap pemain yang karib disapa Jupe itu.

Cara lain adalah Persib mesti memenangi seluruh pertandingan kandang musim ini dan turut mengamankan poin di laga tandang. Artinya klub mesti amankan 17 pertandingan kandang dan berusaha meminimalisir kekalahan di partai tandang.

Capaian paling berpeluang misalnya terjadi di Liga Jerman (Bundes Liga). Dari 18 kontestan seluruh klub telah tuntaskan 28 laga–sampai saat ini. Bayern Munchen aman di puncak (68 poin) dengan keunggulan 10 poin dari tim urutan kedua RB Leipzig yang baru peroleh 58 poin. Munchen terbilang sukses memenangkan laga dengan 21 kemenangan, 5 kali seri dan hanya menderita 2 kekalahan.

Cerminan tim Bavaria menunjukkan bahwa mereka punya mental bagus di kancah domestik seolah-olah mereka selalu haus akan kemenangan. “Karena khususnya pertandingan di kandang mau enggak mau kita harus sapu bersih pertandingan di kandang selebihnya dari itu kita tinggal berpikir apa yang kita lakukan di luar, tapi yang jelas setiap pertanding jadi final bagi kita,” papar Jupe ingin mengatasi.


Tag : Liga1, Persib
0 Komentar untuk "Ini Cara Jupe Pecahkan Mitos Persib Tak Juara dalam Kompetisi Penuh"

Back To Top