Mengingat Kembali :Liga Indonesia 1996-97, Ketika Persebaya menjadi Juara

MUSIM ketiga Liga Indonesia ini, ada yang beda dalam memutar roda kompetisi, selain pembagian klub dibagi menjadi tiga wilayah yang diikuti 33 tim. Juga nama kompetisinya berubah jubahnya, dari Liga Dunhill menjadi Liga Kansas. Perusahaan rokok tersebut tetap dibawah naungan acency PT Cipta Citra dengan nilai sponsor Rp 5,350 miliar. Walaupun jumlah klub bertambah dari 31 tim menjadi 33, pihak PSSI tetap konsisten mensubsidi sebesar Rp 100 juta.

Masyarakat diharapkan jangan terlalu berharap, kompetisi Liga Indonesia 1996-97 dapat menelorkan pemain-pemain hebat untuk dimasukkan dalam skuad tim nasional, karena pengelolaan kompetisi yang tidak seksama. Kompetisi sekarang dinilai oleh pengelola tim, tidak lebih sebagai syarat sah bahwa persepakbolaan nasional masih ada.

Pokoknya, masyarakat dijaga jangan semakin frustasi melihat persepakbolaan nasional. Pengelolaan kompetisi Liga Indonesia ini acak-acakan. Bukan hanya sekadar posisi Ketua Bidang Kompetisi dan Turnamen dengan mundurnya Ismet Tahir yang tidak jelas, tetapi juga soal transfer pemain, pengesahan pemain, hingga yang terakhir ini belum dibagikannya kostum dari tim-tim yang akan bertanding. Pengunduran jadwal partai perdana dari tanggal 3 November menjadi 17 November, juga menggambarkan bahwa PSSI tidak konsisten dalam menerapkan program kerja dan aturan.

Kini, muncul fakta baru bahwa penugasan wasit untuk memimpin pertandingan belum disusun. Malah di Komisi Wasit sendiri ribut, dengan munculnya dua institusi yang mengurus perwasitan.

"Yang saya heran, PSSI ini kok tidak kapok-kapok berbuat ngawur. Kasus Liga Indonesia yang kedua sampai harus mendatangkan wasit asing seharusnya jadi tamparan keras," tegas Moh Barmen.

Dengan sistem pembagian tiga wilayah, praktis setiap klub hanya bertandingan sekitar 20 pertandingan. Ini, akan mengubah sistem pembinaan, dan pendapatan setiap klub dari setiap pertandingan. Nyaris, semua klub dibuat frustasi oleh keputusan-keputusan PSSI yang selalu tidak konsisten.

Dalam pertandingan perdana, yang disaksikan oleh Menpora, Hayono Isman, juara bertahan Bandung Raya harus puas dengan hasil imbang 1-1 (0-0), melawan tuan rumah Medan Jaya, di Stadion Teladan, Medan, Minggu 17 November 1996.

Hayono dalam pidato pembukaannya meminta segenap pengurus yang memiliki akses dalam Liga Indonesia 1996-97 bekerja keras menghilangkan noda hitam dalam pertandingan tahun-tahun lalu. "Saya ingin dalam liga kali ini tidak ada lagi peristiwa pukul memukul antara pemain dengan pemain, pemain dengan wasit, atau penonton dengan penonton. Saya minta PSSI dapat memberi pelayanan terbaik kepada penonton," ujarnya. Peristiwa demi peristiwa kontroversial yang membawa kejelekan wajah persepakbolaan dewasa ini sudah waktunya dihilangkan.

Baru seusai pidato Menpora, muncul skandal yang lumayan memalukan. PSSI harus mengusut "skandal" yang menimpa pemain asing di Liga Indonesia yang diageni ISA (International Sport Agency. Ada 15 pemain asing, termasuk Maboang Kessack (Kamerun) dan Jacksen F Tiago (Brasil) mengeluhkan penghasilan mereka yang "diperas" habis oleh ISA tersebut dalam dua kompetisi Liga Indonesia musim lalu. Selain itu, mereka pun tak punya kebebasan memilih klub masing-masing di Liga Indonesia pada musim kompetisi tahun ini.

“Singa Padang Pasir" dari Kamerun, Roger Milla pernah dengan berang menuding ISA telah "merampok" gajinya. Begitu geramnya, dia bahkan pernah mengancam akan memukul Presiden ISA, Anghel Ionita jika bertemu muka secara langsung. Dicontohkannya, banyak dari pemain yang tertulis bergaji 2.000 hingga 5.000 dollar AS, namun yang diterima paling-paling di bawah 50 persennya. Selama ini, ujar Maboang, kebanyakan dari mereka hanya bisa diam, karena memang membutuhkan uang untuk menghidupi sanak keluarganya.

Namun, dari kejadian yang terus menerus akan tetap terjadi selama PSSI belum bias menerapkan aturan main, masih ada yang tersisa dalam keceriaan yang luar biasa dalam tim ‘Bonek’ Persebaya. Tidak Percuma Wali Kota Surabaya Sunarto Sumoprawiro mengeluarkan anggaran ratusan juta rupiah untuk membangun Persebaya. Setelah terseok-seok selama 10 tahun, tim Kota Buaya itu mampu mengukuhkan diri kembali sebagai kesebelasan terbaik di Indonesia.

Pasukan Rusdi Bahalwan, bersama kapten Aji Santoso memastikan diri merebut Piala Presiden setelah menghempaskan juara bertahan, Bandung Raya 3-1 (0-0) dalam final Liga Indonesia, hari Senin 28 Juli, di Stadion Utama Senayan, Jakarta. Sekitar 30.000 penggemar fanatik tim "Laskar Hijau" yang sejak seminggu menyerbu kota metropolitan Jakarta, benar-benar histeris ketika kapten kesebelasan Aji Santoso menerima piala kemenangan dari Wakil Presiden Try Sutrisno.

 

Carlos de Mello dan Yusuf Ekodono     
Top Scorer Jacksen F. Tiago (Persebaya Surabaya)


SEMIFINAL
Bandung Raya vs Mitra Surabaya 1 – 0
Persebaya Surabaya vs PSM Makassar 3 – 2

FINAL
28 Juli 1997
Stadion Utama Senayan, Jakarta
Wasit : Kim Dae Hyung
Persebaya Surabaya 3-1 Bandung Raya
Aji Santoso (58 pen), Jacksen F. Tiago (60), Reinald Pieters (80), Budiman (84)

PERSEBAYA
Agus Murod, Aji Santoso (kapten), Anang Maruf/Hartono (80), Sugiantoro, Justinho Pinhiero (Brasil), Khairil Anwar, Carlos de Mello (Brasil), Yusuf Ekodono (KK 40)/Jatmiko (43'), Uston Nawawi/Mursyid Effendi (87), Jaksen F. Tiago (Brasil KK 64), Reinald Pieters.
Pelatih : Rusdy Bahalwan

BANDUNG RAYA

Hermansyah, Surya Lesmana/Rehmalem Perangin-Angin (KK 63, KM 72), Nuralim (KK 29), Herry Kiswanto/Hendriawan (78), Olinga Atangana (Kamerun), Dahiru Ibarahim, M. Ramdan, Alexander Saununu, Budiman, Deftendi/Stephen Weah (Liberia 51), Peri Sandria (kapten)
Pelatih : Albert Fafie

CATATAN :
Jacksen F. Tiago dua kali gagal di partai final, saat membela Petrokimia Putra saat kalah atas Persib Bandung musim 1994-1995, dan kemudian membela PSm Ujung Pandang saat dikalahkan Bandung Raya musim 1995-96. Tapi musim ketiganya, meraup gelar juara bersama Persebaya, sekaligus sebagai pencetak gol terbanyak 26 gol.

HADIAH

Persebaya Surabaya Juara Rp 75 juta
Bandung Raya Runner up Rp 50 juta
Nur’Alim - pemain terbaik : Rp 25 juta dan bola emas
Jacksen F Tiago - pencetak gol terbanyak 26 gol : Rp 15 juta dan sepatu emas

KLASEMEN

Wilayah Barat
1 Persebaya Surabaya 20 13 4 3 62 18 43
2 Bandung Raya 20 11 2 7 30 17 35
3 Arema Malang 20 10 5 5 26 20 35
4 Persiraja Banda Aceh 20 10 2 8 23 16 32
5 Persita Tangerang 20 10 2 8 24 22 32
6 PSBL Bandar Lampung 20 8 7 5 19 16 31
7 Semen Padang 20 8 6 6 20 17 30
8 Persikab 20 6 7 7 17 19 25
9 Medan Jaya 20 6 7 7 24 25 25
10 Persija Jakarta 20 4 3 13 23 31 12
11 Persijatim 20 0 3 17 8 75 3

Wilayah Tengah
1 Persib Bandung 20 8 10 2 22 14 34
2 Pelita Jaya 20 9 6 5 36 21 33
3 Mitra Surabaya 20 8 8 4 25 11 32
4 Barito Putra 20 8 5 7 23 24 29
5 PSP 20 8 5 7 22 25 29
6 PSIS Semarang 20 7 5 8 21 20 26
7 Arseto 20 7 5 8 15 20 26
8 PSB Bogor 20 6 7 7 20 20 22
8 PSDS Deli Serdang 20 5 7 8 13 25 22
10 PSMS Medan 20 3 10 7 10 19 19
11 Mataram Indocement 20 4 6 10 13 21 18

Wilayah Timur
Pos Club P W D L GF GA Pts
1 PSM Makassar 20 14 1 5 48 21 43
2 Gelora Dewata 20 12 2 6 37 27 38
3 Persma Manado 20 11 3 6 33 21 36
4 Persipura Jayapura 20 11 2 7 31 22 35
5 Putra Samarinda 20 10 2 8 28 28 32
6 Petrokimia Putra 20 10 2 8 21 26 32
7 Pupuk Kaltim 20 10 0 10 39 22 30
8 Persema Malang 20 7 1 12 30 37 22
9 Persiba Balikpapan 20 6 3 11 25 35 21
10 Assyabaab SGS 20 5 2 13 26 43 17
11 Persedikab 20 3 4 13 15 51 13

12 BESAR
Grup A
1 Persebaya Surabaya 3 3 0 0 14 4 9
2 Mitra Surabaya 3 2 0 1 9 7 6
3 Persiraja Banda Aceh 3 1 0 2 4 9 3
4 Gelora Dewata 3 0 0 3 3 10 0

Grup B
1 Bandung Raya 3 2 1 0 5 0 7
2 Persib Bandung 3 1 2 0 1 0 5
3 Persma Manado 3 0 2 1 2 5 2
4 Barito Putra 3 0 1 2 2 5 1

Grup C
1 PSM Makassar 3 3 0 0 5 2 9
2 Pelita Jaya 3 2 0 1 4 3 6
3 Arema Malang 3 1 0 2 4 5 3
4 Persipura Jayapura 3 0 0 3 3 6 0

PROMOSI
Persikota Tangerang, PSIM Jogjakarta, Persikabo Kab.Bogor

DEGRADASI
Persijatim Jakarta Timur
Mataram Indocement
Assyabaab SGS Surabaya
Persedikab Kab. Kediri

PENCETAK GOL TERBANYAK

26 gol : Jacksen F. Tiago (Persebaya Surabaya)
15 gol : Izack Fatary (PSM Makassar)
14 gol : Vata Matanu Garcia (Gelora Dewata)
13 gol : Peri Sandria (Bandung Raya), Tibidi Alexis (Mitra Surabaya), Musa Kallon (PSM Makassar), Gatot Indro (Persiba Balikpapan)
12 gol : Luciano Leandro (PSM Makassar)
11 gol : Ebongue L. Emest (Persma Manado), Dejan Gluscevic (Pelita Jaya) Irawansyah (Persiraja banda Aceh)
10 gol : Kurniawan Dwi Yulianto (Pelita Jaya)
9 gol : Stepen Weah (MBR), Singgih Pitono (Persema Malang)
8 gol : Fouda Ntsama (PKT Bontang), Andy Kopouw (Persipura Jayapura) Misnadi A.P. (Gelora Dewata)



Tag : Sejarah
0 Komentar untuk "Mengingat Kembali :Liga Indonesia 1996-97, Ketika Persebaya menjadi Juara"

Back To Top