Mengingat Kembali : Liga Indonesia 1998/1999, Ketika PSIS Semarang menjadi Juara

PSIS Semarang 1998/1999
 Dengan reputasinya yang mentereng, Persebaya tentu saja lebih diunggulkan untuk menggondol gelar juara pada saat itu. Persebaya adalah tim paling menakutkan. Materi pemain mereka tak jauh berbeda dari tim yang meraih gelar Liga Indonesia musim 1996/97 (yang terkenal dengan sebutan Liga Kansas) di mana Aji Santoso, Yusuf Ekodono, Uston Nawawi, hingga Reinald Pieters masih menjadi andalan Rusdi Bahalwan, pelatih Persebaya.

Dari putaran pertama hingga final, Persebaya juga hanya mengalami satu kali kekalahan dalam dua belas kali pertandingan, di mana mereka dua kali mengalahkan PSIS Semarang, calon lawannya, dalam tiga pertemuan
Selain itu, dari putaran pertama hingga final, Persebaya juga hanya mengalami satu kali kekalahan dalam dua belas kali pertandingan, di mana mereka dua kali mengalahkan PSIS Semarang, calon lawannya, dalam tiga pertemuan. Kans untuk membalas kekalahan menyakitkan mereka dari PSIS Semarang di pertandingan puncak Perserikatan musim 1986/87 pun terbuka lebar.

Berbeda dengan Persebaya yang lolos ke final dengan meyakinkan, PSIS berhasil melangkah ke final dengan napas megap-megap. Masalah dana di awal kompetisi nyaris membuat PSIS tak tahu harus berbuat apa. Beruntung mereka diselamatkan dengan bubarnya Arseto Solo di mana Agung Setyabudi, Ali Sunan, hingga I Komang Putra, pemain-pemain terbaik Arseto Solo, kemudian memilih merapat ke PSIS Semarang.


Secara mengejutkan, PSIS kemudian berhasil melalui putaran pertama, putaran kedua, dan babak 10 besar liga yang melelahkan. Di semifinal, Mahesa Jenar, julukan PSIS, bahkan membutuhkan beberapa penyelamatan heroik I Komang Putra untuk mempertahankan keunggulan satu gol dari Persija Jakarta.

Dengan pendekatan seperti itu, jika PSIS Semarang akhirnya mampu mengalahkan Persebaya pertandingan final, segala macam logika tetang sepakbola boleh dilupakan – itu dianggap di luar nalar sehat.

Namun, sepakbola memang kadang seperti itu. Keajaiban sering mengacuhkan logika. Dan di Stadion Klabat, yang entah bagaimana bisa dipenuhi oleh 30.000 orang, PSIS berhasil membuktikannya.

Bermain tanpa beban karena menganggap bahwa lolos ke final saja sudah menjadi prestasi yang luar biasa, PSIS Semarang justru berhasil membuat pemain-pemain Persebaya kehilangan akal. Pertahanan mereka begitu rapat, dan saat pertahanan mereka dapat ditembus, I Komang Putra pun tampil cukup sigap. Uston Nawawi dan Yusuf Ekodono, dua pengatur permainan Persebaya, terus memeras keringat tanpa memberikan hasil yang maksimal. Rienald Pieters hanya bisa geleng-geleng kepala saat gagal memaksimalkan peluang.

Tugiyo sang Pahlawan PSIS Semarang
Persebaya yang terus mendominasi justru kecolongan di menit-menit akhir pertandingan. Saat konsentrasi mereka dalam bertahan mulai menurun, Agung Setyabudi mengirimkan umpan silang dari sisi kanan lini serang PSIS. Seperti mencium bauh darah segar, Tugiyo berlari kencang untuk menyambut umpan tersebut. Dengan tenang, penyerang asal Purwodadi itu pun kemudian berhasil memperdaya Hendro kartiko, penjaga gawang Persebaya: pada menit ke-89 PSIS berhasil mengubah kedudukan menjadi 1-0.
 
 Selain berhasil mengubah kedudukan, setidaknya ada dua kepastian lainnya dari gol Tugiyo tersebut. Pertama, penggemar PSIS Semarang, baik yang saat itu berada di depan layar kaca (pertandingan itu disiarkan secara langsung oleh TVRI) maupun yang memasang telinganya di depan sebuah radio (RRI Semarang melakukan siaran langsung), bersorak hebat setelah gol tersebut. Dan yang kedua, seperti kota Itomori setelah dihantam meteor dalam film Kimi No Na Wa , semangat pemain-pemain Persebaya hancur lebur nyaris tak tersisa.

Beberapa menit kemudian, Jajat Sudrajat, wasit yang memimpin jalannya pertandingan, mengakhiri laga. Kedudukan tak berubah, PSIS Semarang menang. Ali Sunan, kapten PSIS Semarang, dinobatkan sebagai pemain terbaik Liga Indonesia musim 1998/99. Dan hari yang ajaib di Klabat, Manado, itu pun ditutup dengan diangkatnya tinggi-tinggi trofi Liga Indonesia oleh pemain-pemain PSIS Semarang.

Ya, hingga pertandingan final, keajaiban memang terus mengiringi perjalanan PSIS Semarang di Liga Indonesia musim 1998/99. Namun demikian, Tugiyo lah yang paling ajaib dari segala keajaiban yang mereka dapatkan. Siapa yang mengira jika tanda tangan kontrak yang dilakukan Tugiyo pada awal musim itu merupakan tanda tangan dari seorang pemain bermental juara?
 
Ali Sunan Kapten PSIS Ketika menerima Piala
Final
9 April 1999 | Stadion Klabat Manado (30.000 penonton)
Persebaya Surabaya 0-1 PSIS Semarang
[Tugiyo 89)
Wasit : Djajat Sudrajat (Cianjur)
 
Line-up
PSIS: I Komang Putra, Agung Setiabudi, M. Soleh, Wasis Purwoko, Simon Atangana,
          Ebanda Timothy, Bonggo Pribadi, Ali Sunan (C), Tugiyo, Ali Shaha Ali,
          Imran Amirullah/Deftendi (73').
 
Persebaya: Hendro Kartiko, Aji Santoso (C), Anang Maruf/Hartono (88'), 
                  Sugiantoro, Yoseph Lewono, Chairil Anwar (Y), Eri Irianto, 
                  Yusuf Ekodono/Achmad Ariadi (57'), Uston Nawawi (Y), Musa Kallon, 
                  Reinald Pieters/Putut Wijanarko (62').
 
Topscorer : Alain Mabenda (PSDS) 11 gol
Best Player: Ali Sunan (PSIS)
Fair Play Team : Semen Padang
PSIS Coach: Edy Paryono
Persebaya Coach: Rusdy Bahalwan
 
 sumber:fourfourtwo.com
Tag : Sejarah
0 Komentar untuk "Mengingat Kembali : Liga Indonesia 1998/1999, Ketika PSIS Semarang menjadi Juara"

Back To Top