Mengingat Kembali : Liga Indonesia 1999/2000, Ketika PSM Makassar Menjadi Juara

SEJAK dijabat Agum Gumelar, sepertinya ada perubahan yang lumayan signifikan, khususnya dalam penggalangan sponsorship. 

Ketika menggantikan Azwar Anas yang mundur dari jabatan Ketua Umum PSSI, akibat banyak kegagalan dan kasus ‘skandal sepak bola gajah’ di Piala Tiger 1998, Agum Gumelar seperi ‘dipaksa’ masuk sepak bola, padahal kompetisi tinggal sebulan.

Namun, kini memasuki periode kedua dibawah komando Agum Gumelar, mendapatkan sponsor yang lumayan. Kompetisi liga Indonesia 1999-2000 ini, PSSI memperoleh dana sponsor sebesar Rp 7,2 miliar dari Bank Mandiri, masing-masing klub memperoleh bagian pendapatan karena diwajibkan memasang logo bank tersebut di seragam tim, dan pemasangan A-Board di lapangan pertandingan, dengan nilai Rp 100 juta..

Hanya saja menjelang liga digulirkan, untuk ketiga kalinya ada tim yang harus mengundurkan diri. Jika sebelumnya ada Persiku Kudus (musim 1995-96), kemudian Bandung Raya dan Assyabaab Surabaya (1997-1998), dan menyusul Arseto membubarkan diri. Kini giliran PSBL Bandar Lampung tak ikut Liga Indonesia 1999-2000, akibat kehabisan ‘bensin’ alias dana. Sudah hampir tiga bulan, tak mampu mendapatkan dana Rp 1 miliar untuk biaya kompetisi. Namun, dalam detik-detik terakhir, Agum Gumelar turun tangan untuk menuntaskan krisis dana PSBL Bandar Lampung, dan akhirnya tetap bisa mengikuti Liga Indonesia walaupun semangat pemain sudah goyah.

Ujian Agum Gumelar kembali diuji, saat pembukaan kompetisi Liga Indonesia VI, Minggu, 7 November, di Stadion Jatidiri, Semarang. Karena saat disaksikan sendiri di depan mata, Agum melihat kerusuhan penonton ‘Mahesa Jenar’ yang kecewa, saatnya timnya PSIS Semarang vs Barito Putra, yang berakhir untuk kemenangan tim tamu 0 - 2. Bahkan, pertandingan belum berakhir, sudah dihentikan menit ke 80.

Ironisnya, pertandingan PSIS lawan Barito Putra yang merupakan acara simbolik pembukaan Liga Indonesia 1999-2000, disaksikan langsung oleh Menteri Pemuda dan Olahraga Mahadi Sinambela, dan Ketua Umum PSSI yang juga Menteri Perhubungan Agum Gumelar.

Sebagai Ketua Umum PSSI yang resmi setelah ditunjuk pengurus harian, lagi-lagi Agum Gumelar dibuat gerah oleh ulah Kurniawan Dwi Yulianto. Peristiwanya, tidak langsung menyangkut nama striker tim nasional tersebut. Namun, saat pemain PSM Ujungpandang, Kuncoro terdapat menggunakan shabu di Hotel Weta yang melibatkan pemain PSM Kurniawan Dwi Yulianto, dan pemain Persebaya, Mursyid Effendi. Skandal ini jadi sangat ‘istimewa’ yang dihadapi PSSI.

Kasus yang merebak 29 April 2000 itu selangkah lagi mencapai puncaknya dengan pengakuan Mursyid dan penegasan Kuncoro bahwa Kurniawan Dwi Yulianto juga ikut menikmati Shabu. Namun klimaksnya, 20 Mei dengan pemanggilan Kurniawan oleh Komisi Disiplin batal bahkan berganti dengan tanda tanya besar karena tiba-tiba kasus itu diambil alih Ketua Umum PSSI, Agum Gumelar.

Menurut PSSI, masalah doping shabu merupakan persoalan sensitif. Bila ternyata Kurniawan DY benar menggunakan shabu, maka satu-satunya cara mendukung pemain itu adalah memasukkannya dalam pusat rehabilitasi. Namun bila dia terbukti bersih, maka akan terbuka kesempatan bagi Kurniawan membela Indonesia. Masalah Kurniawan DY yang seharusnya menjadi hokum yang terkait dengan polisi, sepertinya bisa direndam menjadi PSSI.

Menjelang penyelenggaraan kompetisi 8 Besar Liga Bank Mandiri, PSSI mengambil keputusan yang ‘aneh’. PSSI bukannya mengumumkan larangan tiga pemain yang terlibat kasus isap shabu agar tidak ikut delapan besar, namun PSSI mencari cara untuk menutup-nutupi perbuatan tidak sportif ketiga pemain itu.

Dengan memanfaatkan kesimpulan pusat rehabilitasi ketergantungan narkotika Wijaya Kesuma Sports Campus, PSSI ‘menyarankan’ ketiga pemain itu boleh ikut 8 Besar. Akan tetapi, begitu selesai bermain, ketiga pemain itu tetap berada di bawah pengawasan. Keputusan yang ‘aneh’ inilah yang sampai selesai kompetisi tidak menguak kasus isap shabu-shabu.

Masalah kasus isap shabu seperti di peti es-kan, justru klub yang diperkuat Kurniawan dan Kuncoro meraih gelar juara. Tim ‘Juku Eja Makassar, menjuarai kompetisi sepak bola Liga Bank Mandiri, setelah dalam final di Stadion Utama Senayan, Minggu 23 Juli, mengalahkan PKT Bontang, 3-2 (1-0). Sayangnya, pertandingan yang seru dan menarik tersebut diwarnai ketidaktertiban dan keributan antara petugas keamanan dengan penonton.

Dengan kemenangan tersebut, PSM untuk pertama kalinya menjuarai Liga Indonesia, sebuah kompetisi paling bergengsi di Indonesia setelah meleburnya kompetisi perserikatan dan liga sepakbola utama (Galatama) sejak 1994. Sebelum sukses ini, 'Tim ‘Juku Eja’ yang merupakan salah satu kiblat penting sepakbola nasional lima kali menjuarai kompetisi perserikatan, yaitu pada musim kompetisi 1957, 1958, 1965, 1966, dan 1992.

Hanya saja, yang menjadi kejutan besar di akhir musim, justru untuk pertama kalinya dalam sejarah sepakbola nasional. Adalah sebuah tim yang musim sebelumnya juara liga, langsung terkena degradasi di musim berikutnya. Itulah yang dialami PSIS Semarang, yang juara musim 1998-1999, justru turun ke Divisi I di musim 2001.

WILAYAH BARAT
1.Persija Jakarta 26 14 9 3 48-27 51
2.Persijatim Jakarta Timur 26 14 4 8 49-27 46
3.Persikota Tangerang 26 13 6 7 40-21 45
4.PSMS Medan 26 12 9 5 34-21 45
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - --------------
5.PSPS Pekanbaru 26 13 6 7 41-36 45
6.Semen Padang 26 11 11 4 38-20 44
7.Persiraja Banda Aceh 26 12 2 12 31-33 38
8.Persib Bandung 26 8 8 10 22-21 32
9.PSBL Bandar Lumpung 26 8 6 12 23-39 30
10.PSDS Deli Serdang 26 7 7 12 38-42 28
11.Persikab Bandung 26 7 7 12 24-37 28
12.PSP Padang 26 6 8 12 21-31 26
---------------------------------------------------------------
13.Indocement Cirebon 26 6 7 13 22-36 25
14.Medan Jaya Medan 26 4 4 18 19-59 16

WILAYAH TIMUR
1.PSM Ujung Padang 26 16 8 2 41-13 56
2.Arema Malang 26 14 5 7 31-18 47
3.Pupuk Kaltim Bontang 26 15 3 8 45-25 45
4.Pelita Jaya Solo 26 12 9 5 31-18 45
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - --------------
5.Persipura Jayapura 26 11 7 8 37-24 40
6.Persebaya Surabaya 26 9 8 9 31-25 35
7.Persma Manado 26 10 5 11 34-29 35
8.Persema Malang 26 8 10 8 27-26 34
9.Barito Putra Banjarmasin 26 9 5 12 22-35 32
10.Petrokimia Putra Gresik 26 8 7 11 27-38 31
11.Putra Samarinda 26 8 4 14 28-42 28
12.Gelora Dewata Denpasar 26 7 6 13 25-41 27
-----------------------------------------------------------------
13.PSIS Semarang 26 6 6 14 22-32 24
14.PSIM Yogjakarta 26 4 7 15 15-50 19


DELAPAN BESAR
GRUP A
1.PSM (Ujung Padang) 3 3 0 0 8- 4 9
2.Pupuk Kaltim (Bontang) 3 1 1 1 4- 4 4
3.Persijatim (Jakarta) 3 0 2 1 3- 5 2
4.PSMS (Medan) 3 0 1 2 2- 4 1

GRUP B
1.Persikota (Tangerang) 3 1 2 0 3- 2 5
2.Persija (Jakarta) 3 1 1 1 4- 4 4
3.Arema (Malang) 3 1 1 1 3- 5 4
4.Pelita (Solo) 3 1 0 2 4- 3 3

SEMIFINAL
Stadion Senayan, 20 Juli 2000
Persija Jakarta vs PSM Makassar 0 - 1
Persikota Tangerang vs Pupuk Kaltim Bontang 3 - 4

FINAL

Utama Senayan, 23 Juli 2000
Penonton : 30,000
Wasit: Djadjat Sudrajat

PSM Makassar vs Pupuk Kaltim 3 - 2
(Kurniawan 39, 62, Rachman Usman 55; Aries Budi Prasetyo 75, Fachry Husaini 80pen)

PSM MAKASSAR
Hendro Kartiko, Ortisan Salossa, Rony Ririn, Syamsudin Batolla, Yuniarto Budi (44 Yosep Lewono), Carlos de Mello, Bima Sakti (c), Yusrifar Jafar (68 Aji Santoso), Miro Baldo Bento (16 Rachman Usman), Kurniawan Dwi Julianto.
Pelatih: Syamsuddin Umar

PUPUK KALTIM :

Sumardi, Jet Donald Laala, Aries Budi, Ridwansyah, Firdaus Nyong, Mansyur, Zulkifli (46 Joko Herianto), Fachry Husaini (c) (yellow 26), Ponaryo Astaman (61 Pujo Semedi), Ardiansyah (79 Yudhi Kuncahyo), Marten Tao]
Pelatih : Soengkowo Soediharto

HADIAH

Juara meraih hadiah Rp 75 juta
Runners-up Rp 60 juta.
Pemain terbaik Rp 20 juta
Pencetak gol terbanyak Rp 15 juta plus sepatu emas

PEMAIN TERBAIK
Best Player: Bima Sakti (PSM Makassar)

TOPSKOR
24 gol : Bambang Pamungkas (Persija Jakarta)
23 gol : Kurniawan Dwi Yulianto (PSM Makassar)
15 gol : Mourmoda Marco (PSPS Pekanbaru), I Komang Mariawan (Persikota Tangerang)
13 gol : Founda Ntsama (Gelora Dewata), Marthen Tao (PKT Bontang), Andi Kopouw (Persipura Jayapura), Abdul Manan (Persijatim)
10 gol : Jacksen F. Tiago (Persebaya Surabaya), Imam Faisal (PSDS Deli Serdang), Bako Sadissou (Pelita Solo), Miro Balodo Bento (PSM Makassar)

DEGRADASI
Indocement Cirebon, Medan Jaya Medan, PSIS Semarang, PSIM Jogjakarta

PROMOSI
Persita Tangerang, PSS Sleman, Persikabo Bagor, Persijap Jepara


*/dari berbagai sumber


Tag : Sejarah
0 Komentar untuk "Mengingat Kembali : Liga Indonesia 1999/2000, Ketika PSM Makassar Menjadi Juara "

Back To Top