Sejarah Pemain Asing di Liga Indonesia

    Fandi Ahmad, pemain asing asal Singapura yang bermain di klub Niac Mitra pada musim kompetisi Galatama 1982-1983.

Sejarah mencatat Liga Indonesia (LI) merupakan cikal-bakal kompetisi yang kini bernama Liga 1 2017. Kemunculan LI pada 1994 merupakan penggabungan kompetisi perserikatan (hampir berusia 60 tahun ketika itu) dan Galatama (sejak 1979).



Konsep mendatangkan pemain asing, yang diawali oleh Galatama, dilanjutkan pada era perdana LI.
Pintu buat pemain asing terbuka mulai Galatama bergulir pada 1979. Ada nama Paul dan Steve yang bermain untuk Pardedetex di Galatama I 1979.

Kemudian, Jairo Matos menyusul pada 1980 dan menjadi pemain asing ketiga di Galatama.
Kedatangan penggawa impor tak berhenti di situ. Kali ini dari kawasan Asia Tenggara, yaitu Singapura. Fandi Ahmad dan koleganya, David Lee, membela Niac Mitra Surabaya.
Singkat cerita, konsep Galatama itu mencuri perhatian LI. Dana segar langsung dialokasikan untuk mewujudkan rencana tersebut.

Tak tanggung-tanggung, dana Rp1 miliar digelontorkan federasi untuk membeli pemain asing.
“Promotor menjamin penyediaan dana Rp4,35 miliar per musim kepada PSSI. Dari dana itu, antara lain dipakai untuk promosi, seminar, wasit, termasuk sejumlah satu miliar untuk membeli pemain asing. Semua diserahkan kepada PSSI untuk disebar ke klub-klub,” tutur Nirwan Dermawan Bakrie di Tabloid BOLA edisi September 1994.

Seleksi pemain asing pun digelar melibatkan sebuah divisi anyar di federasi bernama Tim Teknis Pemilihan Pemain Asing, yang diketuai Andi Soemadipradja. Pada seleksi awal, ada 13 pemain yang lolos seleksi.

Namun, kali ini pemain asing mendapatkan “penolakan”. Banyak yang meragukan kualitas penggawa impor tersebut. Padahal, dana yang dikeluarkan tidak sedikit.

PSSI harus bekerja sama dengan PT Cipta Citra Sport (CCS) sebagai promotor. PT CCS mencari pemain asing melalui International Sports Association (ISA) dan ongkos kedatangan penggawa asing ditanggung promotor.

Kompetisi belum mulai, banyak pelatih yang kecewa terhadap penggawa asingnya.
M. Andi Teguh, pelatih Petrokimia Putra, berkomentar: "Suplai gratis ini meragukan nilai profesionalisme.” Begitu juga dengan Gusnul Yakin, pelatih Arema.

“Teknik Gaye kurang bagus. Ia tak di atas pemain nasional macam Aji Santoso dan Singgih Pitono. Masih belum matang.”

Meski demikian, memang tak semua pemain asing meragukan. Ada beberapa nama tampil moncer. Namun, penampilan apik mereka tetap tak mengalihkan sorotan.

Kala itu kinerja penggawa impor digugat lantaran punya mutu rendah dan tak lebih baik dari pemain lokal. Mereka tak sanggup mendongkrak mutu LI dan menjadi alat penghibur penonton.
Tak ayal, tiga dari 13 nama yang lolos seleksi tadi didepak di pertengahan liga. Empat nama lain di ujung tanduk.

“Tak menaikkan gengsi Pelita Jaya sebagai juara Galatama,” ujar Andre Amin, Manajer Pelita Jaya, mengkritik kualitas pemain asing.

Pemain lokal juga ikut mengeluh terhadap kualitas penggawa asing. Ansyari Lubis misalnya, merasa tak butuh pemain impor.

“Dulu, waktu bekerja sama dengan Buyung Ismu di lapangan, bikin gol sepertinya mudah di Galatama. Tak ada kemauan dari mereka bekerja sama. Saya merasa lelah tidak ada artinya karena tak banyak manfaat setelah ada pemain asing.”
Menilik kondisi itu, sepertinya memang kualitas pemain asing LI lebih rendah dibandung era Galatama. Pasalnya, gaji pemain asing LI pun ikut turun dibanding era Galatama, sekitar Rp3 juta.

Kebablasan
Cita-cita awal untuk mendongkrak kualitas liga dengan pemain asing ternyata tak terwujud. Pada era Galatama, boleh dibilang pemain asing didatangkan sebagai daya tarik dan mengangkat performa tim.

Klub juga sangat selektif dalam perekrutan pemain. Apalagi, klub hanya boleh mendatangkan dua pemain asing.

“Klub yang terjun langsung dalam pencarian dan perekrutan pemain. Jadi, pelatih tahu benar kualitas pemain asing yang akan direkrut. Dengan batasan dua pemain, pelatih harus mendapatkan yang benarbenar berkualitas,” ujar Muhammad Zein Al Hadad, eks pemain era Galatama.

Dengan hanya memiliki dua pemain asing, klub Galatama tetap mengandalkan pemain lokal.
Tak heran bila pemain lokal masih bisa berkembang. Timnas pun tak pernah menghadapi masalah kekurangan pemain berkualitas.

Al Hadad, yang akrab disapa Mamak, mengukuhkan diri sebagai salah satu striker terbaik pada eranya.
Padahal, dia bermain bersama duo Singapura, kiper David Lee dan striker Fandi Ahmad, di Niac Mitra Surabaya.

“Dengan kualitas yang dimiliki, saya banyak belajar dari pemain asing seperti Fandi Ahmad. Timnas juga tidak pernah kekurangan pemain,” kata Al Haddad, yang pernah membela timnas pada 1986-1989.

Hanya, kesuksesan soal konsep pemain asing itu tak berlanjut di LI hingga kompetisi kasta teratas terakhir. Dalam perkembangannya, jumlah pemain asing malah bertambah kuotanya.
Bila sebelumnya hanya dua pemain, kemudian menjadi tiga dan bahkan sampai empat.
Akibatnya, pemain lokal kehilangan tempat di tim utama.

Saat itu, pelatih dibuat pusing karena tidak mungkin menaruh pemain asing yang sudah dibayar mahal oleh klub di bangku cadangan. Buntutnya pemain lokal yang dikorbankan.

“Yang terjadi sepertinya kebablasan. Klub sudah tidak bisa lagi mencari pemain asing karena semua lewat agen. Kuotanya pun bertambah. Akibatnya, timnas mengalami krisis. Kini siapa striker yang bisa dikedepankan setelah era Bambang Pamungkas. Siapa playmaker terbaik Indonesia setelah Firman Utina,” tutur Freddy Muli.

Freddy Mulli pernah merasakan kompetisi saat regulasi pemain asing dihapuskan. Dirinya masih menjadi pemain saat keran tersebut kembali dibuka.

Menurut dia membanjirnya pemain asing membuat pemain lokal kehilangan kesempatan bermain. Apalagi posisi kunci seperti striker, playmaker, dan stoper dikuasai asing. Tak heran bila timnas minim pemain depan.

“Idealnya tiga pemain asing. Lebih baik bila dua saja. Yang penting pemain tersebut sangat berkualitas,” ujar Al Hadad.
(sumber:juara.net)


Tag : Sejarah
0 Komentar untuk "Sejarah Pemain Asing di Liga Indonesia"

Back To Top