Header Ads

Deretan Wonderkid Gagal di Sepakbola Indonesia

Pemain-pemain yang dulunya dianggap sebagai 'wonderkid' namun kemudian gagal berkembang bukan cuma ada di Eropa. Di Indonesia pun ada.
Sekitar enam tahun silam, nama Yongki Ariwibowo sebagai salah satu calon striker murni masa depan Indonesia mencuat ke permukaan. Pada tahun 2010, atau dua tahun setelah ia dipercaya promosi ke tim senior Persik Kediri, pria kelahiran Tulungagung tersebut langsung menarik perhatian Alfred Riedl yang kemudian mengajaknya bergabung dengan skuat timnas Indonesia untuk AFF Suzuki Cup 2010.



Tampil apik – untuk ukuran pemain muda – di gelaran dua tahunan tersebut, Yongki dipanggil lagi untuk memperkuat timnas Indonesia (U-23) di ajang SEA Games 2011. Sayang, ia gagal mengulang performanya bersama timnas senior dan kalah bersaing dengan nama-nama seperti Titus Bonai dan Patrich Wanggai. Pada akhirnya Garuda harus puas hanya mendapatkan medali perak setelah kalah adu penalti dari timnas Malaysia.


Di level klub, torehan eks Perseta Tulunggagung tersebut juga tidak begitu mentereng. Bersama Arema Indonesia di musim 2010/11, Yongki hanya tampil sebanyak 16 kali dan membuat 7 gol, pun demikian saat bersama Persisam Putra Samarinda di mana ia hanya mencetak 7 gol dari 30 kali bermain.

Meski begitu, sejumlah klub ternyata masih meminati jasa sang pemain. Tidak berlebihan, perannya sebagai super-sub membuat klub-klub masih sangat mempertimbangkan sang pemain. Karirnya di Barito Putera pun sejauh ini masih bisa dikatakan selamat, dirinya dipertahankan manajemen setelah tampil memukau bersama Laskar Antasari di ajang Indonesia Soccer Championship tahun kemarin.

Tapi, mengingat dulu bagaimana ia sempat memberikan harapan akan menyudahi ketiadaan striker murni tanah air, rasanya Yongki cukup gagal memenuhi kriteria tersebut.

Syamsir Alam
Siapa yang tak kenal Syamsir Alam? Gol cepatnya di detik 16 saat menumbangkan timnas Hongkong di ajang kualifikasi Piala Asia U-19 membuat namanya dielu-elukan sebagai salah satu peluru masa depan timnas saat itu.

Syamsir pun merupakan andalan timnas di usia muda; mulai dari U-11 sampai U-23, namanya terus terdaftar. Selain sebagai ujung tombak, ia juga didaulat sebagai kapten tim. Alfred Riedl bahkan sempat memuji potensinya.

Namun, tiba-tiba karirnya berubah 360 derajat setelah ia mengalami cedera punggung. Sejak saat itu, ia terus gagal menemukan level permainannya seperti semula. Alih-alih menjadi andalan klub, ia justru gonta-ganti klub karena permainannya yang tak kunjung membaik.

Setelah berkostum Penarol, ia pindah ke CS Vise (Belgia). Tak kunjung mendapatkan menit bermain, Syamsir kemudian memutuskan pindah ke DC United dan bernasib sama. Dirinya lalu memutuskan kembali ke Indonesia dan bermain di Sriwijaya FC.


Sayangnya, ia juga tak tampil menawan dan harus dilepas pada musim berikutnya. Pelita Bandung Raya dan Persiba Balikpapan menjadi tujuan selanjutnya. Namun, menit bermain yang sedikit membuatnya gagal menampilkan permainan terbaik.

Hal ini diperparah dengan berita seputar hubungannya dengan beberapa wanita, termasuk dari kalangan selebriti yang membuat nama Syamsir semakin tersudut. Ia juga dinilai sebagai pemain yang indisipliner.

Kini, pemain yang dulunya digadang-gadang menjadi suksesor Bambang Pamungkas itu justru lebih sering terlibat dalam pertandingan tarkam. Sempat muncul kabar bahwa ia akan direkrut oleh Persijap Jepara, namun berita tersebut menguap begitu saja.

Alfin Tuasalamony
Pemain SAD angkatan pertama ini sejatinya memiliki karir yang menjanjikan, bahkan lebih baik dari rekannya, Syamsir Alam. Ya, Alfin sukses menjadi punggawa inti CS Vise selama dua musim dan berperan sebagai bek sayap jempolan.

Hal ini kemudian mengundang ketertarikan dari salah satu raksasa Portugal, Benfica. Sayangnya, Alfin lebih memilih pulang ke Indonesia dan bergabung dengan Persebaya Surabaya.

Kedekatannya dengan Rahmad Darmawan membuat pria 24 tahun ini ikut hijrah ke Persija Jakarta. Namun belum lama membela Macan Kemayoran, Alfin justru mendapatkan musibah. Ia mengalami patah tulang kering setelah ditabrak oleh mobil di Jakarta.



Setelah sembuh, pemain kelahiran Maluku tersebut direkrut Pusamania Borneo FC. Namun, ia tidak pernah sekalipun diturunkan dengan alasan performanya yang tak kunjung menunjukkan kemajuan.

Ia dilepas di tahun selanjutnya dan kini diketahui bergabung dengan Bhayangkara FC. Seperti yang kita saksikan, hingga pekan ke-7, Alfin belum diturunkan oleh Simon McMenemy.

Irvin Museng
Pemain keturunan Tionghoa ini sempat menjadi buah bibir kala berhasil menorehkan gelar pribadi sebagai top skorer di ajang Danone Cup 2005 di Prancis. Di samping itu, ia juga sukses mengantarkan Indonesia ke peringkat 11 turnamen dari total 32 negara.

Ia selanjutnya dilirik dan diberi kesempatan untuk berlatih bersama tim junior Ajax Amsterdam. Kurang lebih sembilan bulan di Belanda, Irvin mesti kembali ke Indonesia karena masalah visa.

Sekembalinya dari Belanda, Irvin kemudian memutuskan untuk bermain bersama PSM Makassar, namun sayang ia gagal bergabung karena urusan administrasi yang belum kelar diurus. Tak menyerah begitu saja, pria yang kini sudah memiliki satu anak ini coba berkostum Pro Duta di tahun 2011.


Pro Duta yang mengganti nama menjadi Medan Chief berpartisipasi di ajang Indonesia Premier League (IPL). Disinilah Irvin mulai sering bermain. Akan tetapi, cedera membuat ia harus akrab dengan meja operasi.

Pada tahun 2013, Persiba Balikpapan menjadi pelabuhan selanjutnya. Lagi-lagi, cedera serta permainan yang tidak meningkat membuat Irvin dipecat oleh manajemen tim.

Melihat rekam jejaknya yang lebih dekat dengan bencana cedera, pemain kelahiran Makassar itu memutuskan pensiun dini di tahun 2014. Melalui akun Twitter pribadinya, dia mengutarakan niatnya tersebut dan resmi menyudahi petualangannya di dunia sepakbola.

Oktovianus Maniani
Oktovianus Maniani sebetulnya diplot sebagai salah satu sayap masa depan Indonesia. Hal ini lantaran ia sukses tampil bagus bersama skuat asuhan Alfred Riedl di ajang AFF Suzuki Cup 2010 silam.

Tampil impresif di sayap kanan Garuda membuat klub-klub berminat memakai jasanya kala itu, termasuk Sriwijaya FC yang pada akhirnya berhasil mendapatkan sang pemain di tahun 2011. Okto sebenarnya hampir bergabung dengan Arema Indonesia, namun tempatnya justru diambil oleh TA Musafry.

Hanya semusim bersama Laskar Wong Kito, pemain berusia 26 tahun tersebut kemudian melanjutkan petualangannya dengan hijrah ke berbagai klub, di antaranya Persiram Raja Ampat, Persiter Ternate, Barito Putera, Persak Kebumen, Persiba Balikpapan, Pusamania Borneo FC dan Arema Cronus. Faktor kegagalan adaptasi dan kurang disiplin membuat ia seringkali gonta ganti klub.




Okto sendiri juga sempat ikut berperan dalam sebuah sinetron dan berperan sebagai pelatih. Itu dilakukannya untuk bertahan hidup ketika kompetisi sepakbola Indonesia dibekukan oleh FIFA pada tahun 2015.

Kini, selain diketahui menjadi PNS, Okto juga bermain untuk salah satu klub Liga 3, Persemar Mamberamo Raya.

Arthur Irawan
Satu lagi pemain muda yang pernah merasakan atmosfer Eropa yang sejauh ini belum bisa menampilkan performa terbaik. Arthur Irawan merupakan pemain kelahiran Surabaya yang sempat merasakan bermain di Spanyol.

Espanyol dan Malaga sempat menjadi klub persinggahan pemain 24 tahun ini. Sayangnya, ia hanya sampai di level tim B saja. Arthur lalu pindah ke Belgia dan bermain untuk Waasland-Beveren yang berlaga di kompetisi tertinggi Belgia, Belgia Pro League.

Namun lagi-lagi, ia gagal mendapatkan menit bermain karena alasan permainannya yang tak kunjung berkembang. Selama kurang lebih dua tahun di Belgia dan tidak mendapatkan kejelasan terkait masa depan karirnya, pemuda yang sempat ikut seleksi timnas U-23 ini memutuskan untuk kembali ke Indonesia.


Di Indonesia, Arthur juga ternyata belum mampu tampil apik. Sejak kembali ke tanah air, pria bertinggi 175 cm ini terus berusaha mencari klub. PSM Makassar sempat menjadi tempat ia melakukan trial, namun pada akhirnya ia kini membela Persija Jakarta di ajang Liga 1.
Hingga saat ini, Arthur masih belum menemukan kemampuan terbaiknya. Ia bahkan belum bisa mengangkat level permainan Persija menjadi lebih baik.


Egi Melgiansyah
Cedera jadi masalah serius buat seorang Egi Melgiansyah, pasalnya sebelum mulai menerima berbagai cedera, Egi merupakan salah satu gelandang muda terbaik Indonesia. Ia bahkan menjadi nyawa permainan dari timnas U-23 pada SEA Games 2011 dan Macan Kemayoran di tahun 2014.

Salah tumpuan ketika mendarat sesaat setelah berhadapan dengan Bambang Pamungkas pada 2014 silam membuat Egi mengalami cedera lutut. Namun, tidak ada yang menyangka jika cederanya itu berbuntut panjang.


Pasca sembuh, Egi gagal mempertontonkan permainan terbaiknya. Ia justru tersingkir oleh pemain lain dan menyebabkan dirinya pindah ke Pusamania Borneo FC. Tapi, setali tiga uang, bersama klub asal Samarinda itu, Egi juga gagal menemukan performa terbaiknya hingga akhirnya dilepas.

Kini, Egi membela Persita Tangerang, ia sudah bergabung sejak Pendekar Cisadane berpartisipasi di ISC B 2016 lalu. Tahun ini menjadi tahun pertama Egi dan Persita berkompetisi di liga (Liga 1) resmi sejak dibekukan tahun 2015 lalu.

Muhammad Nasuha
Karir salah satu punggawa tim nasional di AFF Suzuki Cup 2010 ini benar-benar meredup. Digadang-gadang sebagai penerus Aji Santoso di sisi kanan pertahanan Idnonesia, M Nasuha justru menjadi pemain yang lebih akrab dengan cedera.

Ya, Nasuha sempat menderita kista di belakang lututnya selepas membela timnas Garuda. Setelah direkrut Persib Bandung pun nasib buruk kembali menimpa sang pemain. Ia mengalami robek meniscus dan patah tulang rawan pada lutut kirinya. Kontraknya pun tidak diperpanjang oleh Maung Bandung.

Dirinya kemudian fokus untuk menjalani pemulihan cedera. Tak lama ia dinyatakan sembuh dan pada tahun 2014 langsung bergabung dengan CIlegon United. Sial bagi Nasuha, ketika membela Cilegon United di tahun 2014, eks bek timnas ini kembali mengalami cedera, parahnya cedera tersebut adalah cedera yang amat membahayakan karir para pesepakbola, yakni Anterior Cruciate Ligament (ACL). Selama dua tahun lebih, Nasuha terus berjuang untuk pulih.

Kini, seiring dengan berjalannya waktu, di usia yang sudah menunjukkan angka 32, Nasuha masih belum memiliki klub. Kendati demikian, ia masih optimis untuk bisa kembali bermain sepakbola.

Sumber:fourfourtwo

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.