Sebelum Dibakar, Zoya Sempat Cium Kaki Marbot yang Pergokinya Mencuri


Salah satu saksi kunci kasus pembakaran terhadap terduga maling Muhammad La Zahra alias Zoya adalah Rojali. Dia adalah marbot (pengurus) dari musala Al Hidayah, tempat di mana amplifier hilang.

Kapolres Bekasi Kabupaten Kombes Asep Adi Saputra mengatakan, Rojali telah berupaya menghentikan Zoya karena diduga mencuri amplifier musala. Akan tetapi Zoya menghiraukannya dan berupaya melarikan diri dengan menggunakan sepeda motornya.

"Rojali ini memergoki, tapi bukan memergoki saat diambil ya. Tapi ketika dicurigai si MA yang ambil, lalu dia ngejar dari musala sejauh kurang lebih 3 sampai 4 kilometer," kata dia, Rabu (9/8).
Akhirnya Rojali mampu mengejar Zoya. Kemudian, Rojali memeriksa tas Zoya dan didapati ada amplifier yang diakui Zoya milik mushala. Ada juga dua amplifier lain di tas Zoya.

"Kemudian setelah memastikan tersangka tak melarikan diri, kemudian terjadilah peristiwa pengeroyokan terjadi. Rojali berteriak 'ini bukan maling motor, tapi maling ampli'," ujar Asep.

Ketika itu Zoya sempat mencium kaki Rojali untuk meminta maaf karena telah berupaya menggondol amplifier mushala. Namun tiba-tiba warga yang terlanjur mendengar teriakan 'maling' spontan menghakimi Zoya.

"Maafkan saya pak ustaz. Begitu, kata MA. Namun massa tidak terbendung, Rojali sempat menghalau, tapi massa tidak berimbang sehingga terjadi pengeroyokan yang menewaskan MA," papar dia.

Rojali kata Asep meyakini bila salah satu amplier yang dibawa oleh Zoya adalah milik musala Al-Hidayah. Karena amplier itu punya ciri-ciri yang sangat khas dan diketahui Rojali selaku marbot.

"Ampli itu di kesingnya ada kotoran burung. Kenapa ada di musala karena musalanya nggak sempurna di atapnya. Burung itu suka mengeluarkan kotoran yang jatuh di antaranya ke kesing itu. Lalu ada juga kuitansi pembelian dengan kode produksi yang sama dengan ampli itu," sambung dia.

SUMBER


0 Komentar untuk "Sebelum Dibakar, Zoya Sempat Cium Kaki Marbot yang Pergokinya Mencuri"

Back To Top